Bitcoin

Bitcoin (BTC)

$75,196.00 ▲3.86%
Ethereum

Ethereum (ETH)

$2,349.49 ▲5.34%
Tether

Tether (USDT)

$1.00 ▼-0.01%
BNB

BNB (BNB)

$622.01 ▲2.39%
XRP

XRP (XRP)

$1.37 ▲2.46%
USDC

USDC (USDC)

$1.00 ▼0.00%
Solana

Solana (SOL)

$85.53 ▲2.39%
TRON

TRON (TRX)

$0.32 ▲0.69%
Figure Heloc

Figure Heloc (FIGR_HELOC)

$1.03 ▼-0.40%
Dogecoin

Dogecoin (DOGE)

$0.10 ▲3.96%

Bahlil Ungkap Banyak Negara Berebut Minyak: RI Tak Akan Pilih-Pilih Pasokan Impor

Geopolitik

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia kembali menyampaikan kenyataan keras tentang kondisi pasar energi global saat ini. Dalam pernyataannya pada 6 April 2026, Bahlil mengungkapkan bahwa banyak negara di dunia kini sedang berebut pasokan minyak mentah dan bahan bakar minyak (BBM) karena pasokan global semakin menipis akibat konflik berkepanjangan di Timur Tengah. “Sekalipun kami ada uangnya, tapi barangnya harus berebut dengan negara lain,” ujar Bahlil tegas. Pernyataan ini muncul di tengah lonjakan harga minyak dunia yang telah tembus USD 100 per barel, di mana Indonesia sebagai net importer minyak tidak memiliki pilihan lain kecuali ikut serta dalam persaingan ketat tersebut untuk menjaga pasokan domestik.

Bahlil menegaskan bahwa pemerintah tidak akanIMPOR MINYAK MENTAH PERTAMINA TURUN DRASTIS 3 memilih-milih sumber impor minyak lagi. RI siap mengambil pasokan dari negara mana pun selama harganya kompetitif dan pasokannya terjamin, termasuk membuka peluang impor BBM dari Rusia. Langkah ini diambil untuk mengamankan stok BBM nasional yang selama ini masih dalam kondisi aman, meski impor crude dari Timur Tengah hanya menyumbang sekitar 20 persen dari total kebutuhan. Menurut Bahlil, pemerintah telah berhasil menemukan sumber crude baru di luar kawasan Timur Tengah, meski ia enggan menyebutkan negara asalnya secara rinci. “Tolong jangan tanyakan lagi dari mana, yang jelas insya Allah semuanya ada,” katanya. Strategi diversifikasi ini menjadi respons langsung atas gangguan pasokan akibat penutupan Selat Hormuz dan ketegangan geopolitik yang semakin memanas.

Persaingan berebut minyak ini bukan sekadar isu Indonesia semata. Bahlil menggambarkan situasi global di mana hampir seluruh negara Asia dan Eropa kini berlomba-lomba mencari alternatif pasokan setelah pasokan dari Timur Tengah terganggu. Beberapa negara tetangga bahkan sudah mulai melakukan pengetatan konsumsi BBM dan kebijakan proteksi pasokan domestik. Di Indonesia, meski stok BBM dan LPG dinyatakan cukup untuk 20 hari ke depan pasca-penutupan Selat Hormuz, pemerintah tetap harus berjuang keras di pasar internasional. Dua kargo minyak dari Singapura sempat putar balik karena persaingan ketat, menunjukkan betapa sengitnya perebutan komoditas energi saat ini.

Di balik kewaspadaan tersebut, Bahlil juga menunjukkan optimisme pemerintah. Ia menyatakan bahwa Presiden Prabowo Subianto telah memerintahkan timnya untuk secara aktif mencari sumber pasokan baru dari berbagai negara, termasuk Amerika Serikat yang telah menjadi salah satu mitra strategis. Komitmen pembelian migas senilai sekitar US$15 miliar dengan AS menjadi bagian dari upaya pengalihan impor dari Timur Tengah. Selain itu, pemerintah tengah mempercepat program blending biodiesel B50 dan bioetanol E20 sebagai alternatif jangka panjang untuk mengurangi ketergantungan pada minyak fosil. Langkah ini diharapkan dapat menekan beban subsidi energi jika harga minyak dunia terus meroket.

Dampak dari perebutan minyak global ini langsung terasa di dalam negeri. Harga minyak dunia yang tinggi berpotensi menekan APBN melalui subsidi BBM yang membengkak, meski hingga saat ini pemerintah masih menahan diri untuk tidak menaikkan harga BBM subsidi. Bahlil menegaskan bahwa keputusan akhir soal harga BBM berada di tangan Presiden, dengan mempertimbangkan daya beli masyarakat. Sementara itu, masyarakat diminta tidak melakukan panic buying karena stok nasional masih aman. Namun, jika persaingan global semakin ketat dan pasokan terganggu lebih lama, risiko kenaikan harga BBM nonsubsidi serta penyesuaian kebijakan subsidi tetap mengintai.

Bahlil juga menyoroti pentingnya diversifikasi energi jangka panjang. Dengan hanya mengandalkan impor konvensional, Indonesia akan terus rentan terhadap gejolak geopolitik. Oleh karena itu, percepatan transisi ke energi baru terbarukan dan peningkatan produksi domestik menjadi prioritas. Pemerintah sedang mengkaji berbagai opsi mitigasi, termasuk penghentian ekspor crude jika diperlukan, agar pasokan dalam negeri lebih terjaga. Pernyataan Bahlil ini sekaligus menjadi sinyal bagi pelaku usaha dan investor bahwa Indonesia tetap terbuka untuk kerja sama energi internasional tanpa diskriminasi asal manfaatnya bagi ketahanan energi nasional.

Secara keseluruhan, ungkapan Bahlil Lahadalia tentang banyak negara yang berebut minyak menggambarkan realitas keras pasar energi dunia saat ini. Indonesia tidak lagi bisa bersikap selektif; yang terpenting adalah menjamin pasokan BBM bagi 280 juta penduduk tanpa mengganggu stabilitas ekonomi. Dengan strategi diversifikasi sumber impor, percepatan program biodiesel dan bioetanol, serta diplomasi energi yang aktif, pemerintah berupaya meminimalkan risiko dari perebutan global tersebut. Meski demikian, tantangan tetap ada jika konflik Timur Tengah berlarut-larut dan harga minyak terus melonjak.

Pada akhirnya, pernyataan Bahlil menjadi pengingat bagi semua pihak bahwa ketahanan energi bukan lagi soal uang semata, melainkan soal kecepatan dan fleksibilitas dalam berebut pasokan di pasar dunia yang semakin kompetitif. Bagi Indonesia, momen ini justru menjadi kesempatan untuk memperkuat kemandirian energi jangka panjang, sehingga tidak lagi bergantung pada satu kawasan saja. Dengan pendekatan pragmatis yang diusung Bahlil, pemerintah berharap dapat menjaga pasokan BBM tetap stabil, harga terjangkau, dan ekonomi nasional tetap berjalan di tengah gejolak global yang tidak kunjung reda.

Komentar Ditutup! Anda tidak dapat mengirimkan komentar pada artikel ini.