Pernah mendengar nama Tim Mawar? Bagi yang mengikuti sejarah Reformasi 1998, nama ini sering muncul sebagai salah satu babak paling gelap di akhir era Orde Baru. Tim ini bukan kelompok bunga melainkan unit kecil elit dari Kopassus yang diduga terlibat dalam penculikan aktivis pro-demokrasi. Meski sudah puluhan tahun berlalu, kisahnya tetap hidup—terutama karena beberapa anggotanya kini menduduki jabatan strategis di pemerintahan.
Asal-Usul Tim Mawar
Tim Mawar dibentuk pada Juli 1997 di dalam Grup IV Kopassus (sekarang Grup 3), TNI Angkatan Darat. Saat itu, Prabowo Subianto menjabat sebagai Danjen Kopassus. Tim ini terdiri dari 11 personel elit, dipimpin Mayor Infanteri Bambang Kristiono.
Anggotanya antara lain:
- Kapten Inf. F.S. Multhazar (Fauzambi Syahrul Multazhar)
- Kapten Inf. Nugroho Sulistiobudi
- Kapten Inf. Yulius Selvanus / Julius Stefanus
- Kapten Inf. Untung Budiharto
- Kapten Inf. Dadang Hindrayuda
- Kapten Inf. Joko Budi Utomo
- Kapten Inf. Fauka Nurfarid
- Serka Sunaryo, Serka Sigit Sugianto, dan Sertu Sukadi.
Tugas resmi mereka adalah mendeteksi dan menangani ancaman terhadap stabilitas nasional, termasuk kelompok yang dianggap “radikal”. Namun, Tim Mawar kemudian menjadi sorotan karena operasi penculikan aktivis.
Peran dalam Penculikan Aktivis 1997–1998
Antara akhir 1997 hingga awal 1998, puluhan aktivis pro-demokrasi diculik. Dari 22 orang yang diduga diculik Tim Mawar, 9 orang berhasil dibebaskan, sementara 13 orang lainnya hingga kini masih hilang (disappearance).
Peristiwa ini menjadi salah satu pelanggaran HAM berat yang diakui Komnas HAM. Pada 1999, 11 anggota Tim Mawar diadili di Mahkamah Militer. Bambang Kristiono divonis 22 bulan penjara dan dipecat dari militer, sementara anggota lainnya mendapat hukuman serupa (12–20 bulan) dan juga diberhentikan.
Meski demikian, beberapa tahun kemudian sejumlah eks anggota kembali aktif di militer dan jabatan publik.
Mengapa Masih Relevan Sekarang?
Di era pemerintahan Prabowo Subianto, nama Tim Mawar kembali mencuat karena beberapa eks anggotanya mendapat posisi penting, seperti:
- Letjen (Purn) Djaka Budi Utama — Ditunjuk sebagai Dirjen Bea Cukai Kemenkeu.
- Mayjen Untung Budiharto — Pernah menjabat Pangdam Jaya dan posisi strategis lainnya.
- Eks anggota lain yang menduduki jabatan di Kemenhan, BUMN (termasuk yang terkait emas seperti Antam), hingga lembaga negara.
Hal ini memicu perdebatan publik tentang rekonsiliasi, penegakan HAM, dan “loyalitas berbalas”. Keluarga korban penculikan sering menyuarakan kekecewaan, sementara pihak lain melihatnya sebagai bagian dari karir militer biasa pasca-hukuman.
Tim Mawar: Hitam Putih Sejarah Indonesia
Tim Mawar bukanlah tim super rahasia yang tak terbukti mereka pernah diadili secara terbuka di pengadilan militer. Namun, nasib 13 aktivis yang hilang masih menjadi luka yang belum sembuh bagi banyak orang.
Bagi generasi muda yang lahir setelah Reformasi, cerita ini mengingatkan betapa mahalnya harga demokrasi yang kita nikmati hari ini. Apakah Tim Mawar hanya “alat” pada zamannya, atau ada tanggung jawab yang lebih besar? Debat ini kemungkinan besar akan terus berlanjut.
Komentar Ditutup! Anda tidak dapat mengirimkan komentar pada artikel ini.







